Minggu, 13 Januari 2013

Cerpen: Menunggu (Karena Kamu)





Cinta itu nyata. Ketika kamu menemukan orang yang mencintaimu, bukan yang seharusnya kamu cintai...


^_^

Seperti mereka yang begitu rajin mengukir kata ...

^_^


Aku sesekali menatap jam tangan warna putih yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku dan selalu diiringi dengan helaan nafas pendek. Menunggu, menunggu, dan selalu menunggu. Aku sudah bosan dengan kegiatan menunggu. Aku hampir selalu menunggu untuk apa saja. Tahukah? Menunggu adalah hal paling konyol yang pernah ada. Kenapa? Karena menunggu selalu berada dalam dua situasi, antara ada dan sia-sia. Ada kedatangan mereka dan mereka justru menghilang.

Aku duduk kembali di bangku kayu yang warnanya sudah sedikit memudar. Sesekali aku menengok ke kanan dan ke kiri berharap orang yang aku tunggu segera muncul untuk mengobati kejengkelanku yang telah menunggunya sekitar 30 menit ini. Dan yang lebih membuatku jengkel lagi terhadapnya adalah beberapa sms yang aku kirimkan sejak sebelum kedatanganku ke tempat ini yang diabaikan olehnya. Huhh!!! Dia benar-benar menyebalkan.

Aku mencoba membuang kebosananku dengan memainkan handphone touch screen warna putih milikku. Tapi handphoneku justru membuatku semakin jengkel. Entah kenapa provider yang sudah aku percaya selama tiga tahun ini mendadak menyebalkan, tidak bisa digunakan untuk mengakses internet. Memang, ini sudah kerap terjadi beberapa minggu terakhir ini, tapi kenapa dalam keadaan yang sudah menyebalkan ini, benda tak bernyawa namun selalu ada untukku itu malah ikut menyebalkan. Ahhh!! Rasanya aku benar-benar ingin pergi dari tempat ini, pulang, dan merasakan damainya kamarku.

Ini sudah menit ke-35. Tapi kehadirannya belum juga nampak. Ya Tuhan, kenapa sih aku selalu berada dalam posisi menunggu. Kenapa aku tadi harus berinisiatif untuk datang sebelum dia? Kenapa aku harus datang 5 menit lebih awal dari waktu yang kita sepakati? Kenapa tidak ada kejadian yang menghambat kedatanganku? Kenapa jalanan yang biasanya macet harus mendadak lengang? Ya Tuhan, aku bosan!

Kurasakan handphone dalam genggaman tanganku bergetar. Sebuah panggilan masuk dari orang yang sudah aku tunggu selama lebih dari 30 menit itu. Ada perasaan sebal yang semakin menjadi dalam diriku, aku ingin memaki dia.

"Hallo" Sapaku sinis. Orang di seberang sana, entah dia ada dimana terdengar terkikik pelan. Tuh kan, dalam keadaan seperti ini dia masih bisa tertawa?!

"Kamu dimana sih? Aku udah nunggu lama banget. Kamu inget kan perjanjian kita ketemu jam berapa dan dimana? Kenapa smsku nggak dibales? Jangan bilang kamu nggak ada pulsa? Jelas aku nggak percaya, mana mungkin kamu bisa nelpon aku" Semprotku sinis dan bertubi-tubi. Aku tak peduli dengan beberapa orang yang sedang menatapku dengan entahlah, tatapan kasian, sebal, atau apalah itu aku tak peduli.

"Aku minta maaf. Terpaksa kita nggak bisa ketemu dulu soalnya tiba-tiba ayahnya sahabatku sakit. Aku harus nemenin sahabatku soalnya dia sendirian. Nggak mungkin dong aku tega ninggalin dia dalam keadaan kaya gini. Maaf ya?! Tadi bukannya aku nggak niat bales sms kamu, tapi handphone ada sama sabahatku itu pas aku lagi ke POM sekalian supermarket" Aku meremas tas tanganku dengan kesal. Bisa-bisanya dia lebih memilih sahabatnya yang aku enggak tahu itu siapa daripada aku yang udah nunggu dia begitu lama. Lagipula, siapa sih yang membuat janji untuk bertemu? Dia kan? Kenapa dia juga yang harus membatalkan janji hanya untuk sahabatnya yang kurasa sudah dianggapnya sebagai belahan jiwanya itu yang bahkan dia rela berkorban untuk sahabatnya itu.

"Maaf ya" Ada nada sesal dari suaranya di seberang sana. Aku menghela nafas sejenak, mencoba membiarkan kesabaran masuk kedalam hatiku. Kecewa? Ya, tentu saja aku kecewa. Aku sebal, aku bosan.

"Iya" Aku memutuskan sambungan secara sepihak. Aku duduk kembali di bangku tua. Mencoba menetralisir emosi yang bercampur memenuhi otak dan hatiku. Sabar? Huh, menunggu yang sia-sia masih butuh kesabaran ya? Sudah kubilang sebelumnya, menunggu itu berada dalam dua situasi, antara ada dan sia-sia. Ada kedatangan mereka dan mereka justru menghilang. Dan aku menunggu kesia-siaan belaka.

Aku berjalan pelan menuju mobil merah yang terparkir rapi di sudut kiri tempat parkir. Pulang dan berdiam di kamar adalah salah satu jalan terbaik untukku saat ini. Mencoba membiarkan emosiku mengalir dengan derasnya di seluruh aliran darahku, dengan begitu aku akan merasakan kelegaan. Ya, aku butuh sendiri. Aku kecewa telah menunggunya. Selalu menunggunya.

Aku membanting tubuhku begitu sampai di kamar bernuansa putih miliku. Aku memejamkan mata sejenak. Aku tidak boleh egois, tapi siapa yang tidak mengerti disini? Aku atau dia? Demi aku atau sahabatnya? Jelas, sahabatnya orang yang mungkin sudah dikenalnya begitu lama sebelum aku, bahkan mungkin lebih rela kehilangan aku daripada sahabatnya yang aku tak peduli dia itu siapa, entah perempuan atau laki-laki.

Aku membuka mata, membuat posisiku menjadi bersandar di dinding kamar yang dilapisi wallpaper kupu-kupu warna-warni dan background warna ungu muda. Aku menggambil sebuah buku kecil, buku yang menjadi tempatku bercerita apapun itu. Tapi kurasa, aku sedang tidak berniat bercerita apapun tentang hari ini. Hari yang membuatku harus menunggu lagi setelah sekian lama aku menghentikan kegiatan itu. Seperti de javu atau apalah itu, tapi menunggu adalah hal yang dulu selalu terjadi. Hingga mungkin aku betah untuk menunggu dalam waktu yang tak terhitung, tapi itu dulu. Bukan sekarang.

Aku tersenyum kecil begitu membuka halaman pertama buku bersampul cokelat tua di tanganku ini.

"Dari seseorang yang selalu menunggu..."

Haha. Aku menertawakan diriku sendiri. Aku menjuluki diriku sendiri, orang yang selalu menunggu. Bodoh. Begitu bodohnya karena aku melakukan kegiatan paling konyol sepanjang masa. Tapi kenapa aku dulu seperti tak peduli dengan itu? Bahkan aku selalu sabar dan tak peduli. Tapi sekarang? Hanya menunggu selama itu sudah membuatku jengkel setengah mati. Padahal dulu aku menunggu berbulan-bulan yang bahkan tak ada hasilnya, tapi aku seakan tak peduli pada hasilnya. Tapi sekarang? Ahhh, ternyata tak melakukannya dalam waktu cukup lama membuatku lupa akan bagaimana cara menunggu yang benar.

***

Petengahan Juli

Hari ini, sekarang. Aku berada dalam satu dimensi ruang yang sama dengan dia. Sosok yang pernah sekilas masuk dalam hidupku. Sekilas tapi membuatku tak pernah tenang. Sekilas yang kemudian hilang. Tapi sekarang? Sosok itu bukan lagi kilasan. Sosok itu akan melekat dengan begitu sempurna di setiap hentakan waktu. Sosok itu akan dengan senang hati bergabung dengan waktu yang ditawarkan padanya sama sepertiku. Tapi, kenapa sosok sekilas itu bisa masuk kembali dalam hidupku sekarang ini dengan cara yang sempurna? Sempurna ketika aku mampu membuang mereka dalam hidupku? Meskipun aku sendiri tak mengerti, sesempurna apakah itu. Tuhan, biarkan aku menikmati setiap detik bersamanya...

Awal Agustus

Aku bahagia. Sebahagia apa? Entahlah, tapi dia selalu membuatku merasa bahagia. Aku... Aku suka senyumannya. Senyumannya adalah senyuman terindah yang pernah ada. Dan setiap dia tersenyum, dia seperti membawa magnet yang dengan cepat akan membuatku tersenyum, bergabung dengannya, meski dia tak pernah tahu aku tersenyum karena aku selalu di depannya, dia tak akan melihatku tersenyum karena dia selalu di belakangku. Tapi... Tapi dia telah termiliki. Oleh orang yang beruntung. Beruntung akan selalu mendapatkan senyumannya secara cuma-cuma tanpa harus bersembunyi. Tuhan, biarkan mereka berada dalam satu masalah. Kumohon!

Minggu kedua Agustus

Tuhan, terimakasih. Entah ini kehendakmu untuk membahagiakan aku atau memang sudah seharusnya seperti ini. Sekali lagi terimakasih, Tuhan. Dia tak lagi termiliki sekarang. Dia sendiri. Sama sepertiku. Aku tak begitu peduli dengan masalah apa yang membuat mereka mengakhiri hubungan sekilas mereka itu, yang terpenting dia telah sendiri sekarang. Apa ini waktuku? Tuhan, berikan aku kesempatan.

***

Aku menghela nafas. Itu aku, waktu itu. Waktu dimana aku berada dalam satu dimensi ruang yang sama dengan seseorang yang sempat terlintas dalam hatiku. Tapi di waktu sebelumnya, sosok itu seperti pemeran figuran. Hanya muncul sekali. Ya, karena aku masih terpaku dengan orang-orang di masa lalu, yang sempat membuatku bahagia. Tanpa pernah aku sadari, bahwa sosok itu mampu memikat hatiku sejak pertama kali aku mendengar namanya. Aneh, konyol, atau apalah itu. Tapi seperti itulah kenyataannya. Namanya, senyumannya, tatapan matanya. Tuhan menciptakan dia dengan sempurna.

Saat aku harus berada dalam dimensi yang sama itu, aku baru menyadari satu hal. Aku memiliki sebuah rasa padanya. Entah itu suka, sayang, atau cinta. Aku sama sekali tak tahu. Yang aku mengerti adalah aku nyaman ketika melihatnya. Melihatnya dari jauh sekalipun. Dan saat itu aku merasakan kecewa yang bersamaan. Ya, kenapa aku terlambat hadir dalam hidupnya? Kenapa aku harus masuk dalam dimensi ruang yang sama dengannya ketika dia telah termiliki? Termiliki oleh orang yang beruntung.

Tapi aku tak selamanya kecewa. Ada kabar yang membuatku tersenyum diatas ketidak bahagiaan orang lain. Ya, kabar tentang dia dan orang yang memilikinya. Tentang, mereka yang tak lagi baik seperti dulu. Yang ternyata, sosoknya itu hanyalah pelampiasan karena tak bisa memiliki, dan ternyata pula sosoknya itu memilih orang yang beruntung itu karena mereka berteman. Aneh, konyol, tidak wajar, tapi nyata. Begitulah.

Dan akhirnya, sosok itu tak lagi ada yang memiliki. Dia sendiri dengan jalan yang dia buat sendiri. Aku bahagia, tapi tidak sebahagia itu. Kenapa? Karena sosok itu mengenalku hanya sebatas kenal. Padahal aku ingin lebih, lebih dari sekadar kenal, apapun itu.

Aku sebenarnya bisa memulai untuk mengenalnya lebih jauh, tapi aku sadar diri. Aku hanyalah wanita yang mulai beranjak dewasa yang harus berhati-hati untuk melakukan segala hal. Aku percaya, semakin bergulirnya waktu, aku dan sosok itu akan menjadi lebih kenal lagi. Dan disinilah aku mulai menunggu sosok itu.

***

Hari ke-11 Agustus

Aku mencoba untuk dekat dengan dia. Mencoba untuk berbicara dengannya. Aku cukup bahagia seperti ini. Tapi aku ingin lebih Tuhan.

Hari ke-13 Agustus

Percaya atau tidak, tapi kita tak secanggung dulu. Ini sudah sangat membahagiakan. Terimakasih Tuhan, atas sahabat baik yang Kau kirimkan padaku, yang meskipun dia tak tahu apa yang aku rasakan pada sosok itu tapi dia membantuku.

Hari ke-14 Agustus

Aku bingung ...

***

Aku... Aku tak bisa menyembunyikan lagi perasaanku pada sahabat baikku. Mungkin lebih tepatnya, aku tak bisa membohongi sahabatku itu tentang perasaanku. Seperti kita ketahui, orang lain terkadang lebih tahu dengan apa yang kita rasakan daripada diri kita sendiri. Mungkin seperti itulah yang aku alami.

"Kamu lagi suka sama seseorang ya?" Tanya sahabatku to the point disela-sela pelajaran bahasa indonesia yang membosankan.

"Mungkin" Jawabku tak yakin. Ya, aku tak tahu dengan perasaanku sendiri. Yang jelas, aku nyaman dengan perasaan ini, itu saja.

"Siapa?" Aku mengerutkan kening. Sejujurnya, aku ingin sahabatku ini tahu tapi aku tak bisa memendam ini sendirian. Kekonyolan ini sudah cukup membuatku galau setiap waktu.

"Emm, tapi jangan ketawa ya? Soalnya ini tuh konyol banget" Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Menyandarkan tubuhku pada kursi kayu yang aku duduki. Aku tidak ingin ditertawakan.

"Iya, iya. Siapa sih?" Sahabatku ini kurasa semakin penasaran. Semakin mendesakku.

"Alvin" Jawabku singkat sepelan mungkin, lalu membenamkan wajahku diantara lipatan tanganku yang di atas meja.

"Huahahahaha" Aku melirik sahabatku ini. Tertawa? Bisa-bisanya dia tertawa sebegini kerasnya. Dia tidak tahu bagaimana perasaanku. Aku malu, aku sebal, aku senang.

"Nggak usah ketawa bisa kali ya?" Tanyaku sinis "Konyol kan?" Lanjutku lirih lalu menatap papan putih di depan kelas yang sudah banyak coretan tak beraturan.

"Kok bisa sih? Sejak kapan?" Sahabatku ini kembali bertanya layaknya detektif yang ingin tahu apa saja tentang kliennya.

"Nggak tahu, tapi sejak kita sekelas aku udah ngrasain perasaan itu" Jawabku jujur. Meski tidak sepenuhnya benar. Tidak sepenuhnya benar karena sejujurnya rasa itu telah ada sebelum sahabatku mengenal dia. Ya, rasa yang telah lama ada namun tetap seperti itu, tak berkembang namun tak layu. Tetap seperti sedia kala meski sekarang tumbuh subur dalam hati kecilku, hati yang paling dalam.

"Tapi aku nggak mau maksa kok. Aku takut terlalu berharap" Tegasku. Ya, aku tak ingin banyak berharap. Dulu, saking terlalu sering aku berharap, aku tak bisa merasakan seperti apa sakit ketika harapan itu sia-sia. Dan kini, aku tak ingin lagi.

"Aku dukung kamu kok" Sahabatku itu menepuk pundakku pelan. Dia adalah orang yang pertama tahu tentang ini, orang pertama yang selalu tahu tentang perasaanku.

Aku membuka lembar berikutnya buku bersampul cokelat ini. Aku tersenyum kecil. Hanya ada tulisan besar AKU SUKA KAMU, TAPI KAMU? Aku masih ingat ketika itu, aku bosan dengan pelajaran bahasa indonesia yang sedang mempelajari tata bahasa, aku tidak suka dengan bab itu. Aku memilih untuk mencoret-coret buku tulisku dengan kalimat "aku suka kamu, tapi kamu?" Saat itu, Alvin duduk di sebelahku. Entah sengaja atau tidak, dia membaca tulisan itu pelan namun aku dan sahabatku mampu mendengarnya. Alvin membaca tulisan itu seperti aslinya.

"Aku suka kamu, tapi kamu?"

"Iya, aku suka kamu" Dalam hati aku menjawab itu. Seandainya kalimat itu tulus dari hatinya, ingin aku menjawab lantang tentang perasaanku yang sebenarnya. Bahwa aku juga suka sama kamu, Alvin.

Sahabatku tertawa dengan puasnya setelah mengamini kalimat Alvin. Semoga itu akan keluar dari bibirnya, nanti. Saat yang paling indah. Tuhan, beri aku waktu untuk mendengarnya mengatakan itu, sekali lagi!

***



Awal September

Kamu selalu membayangiku, bahkan dalam celah alam tak nyataku sekalipun. Kenapa harus kamu? Kamu yang membawa luka meski tak pernah kamu sadari? Kenapa harus kamu? Kamu yang selalu dalam pikiranku meski itu tak ada hubungan timbal balik? Kanapa harus kamu? Orang yang selalu tersenyum. Kenapa harus kamu? Serpihan kecewa yang tak kunjung sembuh. Kenapa harus kamu? Harapanku meski aku tak begitu bagimu. Kenapa harus kamu? Yang bahkan tak peduli siapa aku. Tuhan, terimakasih :) hanya dalam alam tak nyataku, aku bisa sedekat ini dengannya, meski aku yang paling kecewa.

***

Aku menangis tertahan. Jika ingat kejadian itu, aku merasa menjadi orang paling aneh sedunia. Bisa-bisanya aku memimpikan Ri sebanyak empat kali dalam dua hari. Entah apa maksudnya, tapi dalam mimpi itu aku selalu merasa kecewa ketika aku tersadar. Kenapa aku bisa sebegini lemahnya hingga dalam bayangan mimpi pun aku masih harus tetap berharap padanya? Kenapa harus dia?

Aku pernah mendengar bahwa mimpi itu berasal dari pikiran alam bawah sadar kita. Berarti, apa sejauh itu alam bawah sadarku memikirkan dia? Apa tak ada hal yang lebih penting lagi untuk dipikirkan selain dia? Tapi kenapa harus dia?

Terlalu banyak pertanyaan kenapa harus dia, bukan? Bukan terlalu lagi tapi mungin sudah sangat banyak pertanyaan kenapa harus dia. Hingga aku bosan karena tak ada satu pertanyaan pun yang mampu terjawab. Semuanya mengambang, aku dalam kebimbangan. Aku?

Tapi sejujurnya aku bersyukur. Tuhan memberiku mimpi seperti itu berkali-kali. Aku merasa begitu dekat dengan dia. Merasa bisa bersamanya selamanya. Tapi lagi-lagi, aku yang kecewa. Kenapa? Semua hanyalah mimpi. Mimpiku, milikku seorang.

***

Jalani hidup, normally!!!

***

Aku tak lagi menemukan tulisan lagi di lembaran berikutnya. Ya, aku akan menjalankan kehidupanku dengan normal. Aku ingin membuang semua perasaanku pada dia. Entah kenapa, tapi aku ingin membunuhnya dari pikiranku. Aku bosan ketika dia selalu hadir dalam bayangan semu sekalipun. Aku bosan memikirkan dia. Aku ingin mematikan dia dalam hatiku meski aku tak pernah bisa. Karena bias-bias senyumannya tak pernah hilang dari lensa mataku, tak akan.

Aku menghela nafas panjang. Tuhan memang punya rencana indah pada setiap umat-Nya. Apapun itu, tapi Tuhan akan selalu memberikan hadiah untuk kita. Tuhan tak pernah mengecewakan kita. Dan aku percaya akan itu. Tuhan tak pernah mengecewakan aku, sekalipun.

Handphoneku bergetar. Aku meraihnya. 1 panggilan dari Alvin. Aku mengetuk layar yang bertuliskan jawab, lalu mendekatkan benda kecil tak bernyawa itu menyentuh telinga kiriku.

"Hallo"

"Maaf ya! Kamu pasti marah sama aku. Aku ke rumah kamu sekarang ya" Aku menghela nafas. Apa aku segitu egoisnya ya?!.

"Enggak kok. Kamu ngga perlu ke rumah. Sahabat kamu pasti lebih membutuhkan kamu" Mungkin aku memang egois. Aku hanya sedikit marah tadi karena bosan. Tapi aku sadar, aku tak seharusnya egois.

"Beneran? Aku bisa kok ke rumah kamu" Terselip nada khawatir dari suara beratnya. Aku menghela nafas sekali lagi.

"Beneran. Sahabat kamu lebih butuh kamu sekarang. Salam buat sahabat kamu ya, semoga ayahnya cepat sembuh" Kataku.

"Iya, nanti aku sampaikan. Maaf ya sayang"

"Iya"

Aku menghela nafas lagi. Kadang, saking terlarut dengan keadaan yang menjemukan membuat kita melupakan kesadaran. Bahwa kita harus sadar, ada sesuatu yang lebih penting. Bukan begitu?!

Aku berjalan menuju jendela kamarku. Menyibakkan tirai yang tertutup. Membiarkan matahari sore masuk melalui celah-celah kecil jendela membiaskan kehangatan di kamarku. Aku menghirup udara sore hari dalam-dalam.

Hari itu, waktu itu, sore itu. Aku, sahabatku Agni, Alvin, dan Cakka bermain di taman kota. Bukan bermain sih, hanya sekedar ngobrol setelah les sore di sekolah. Ngobrol banyak hal yang sebenarnya tidak penting sama sekali. Mulai dari guru bahasa indonesia sampai celana dalam. Tapi sejak saat itu, kami berempat menjadi begitu dekat. Aku bersyukur karenaNya yang memberiku waktu dan kesempatan.

Aku tak bisa ingat kejadiannya secara detail. Yang aku tahu, tanggal 11 Mei, aku dan Alvin memilih untuk saling menyayangi. Kami bukan menyebut ini pacaran, hanya sekedar rasa saling menyayangi saja. Aku bahagia, kurasa Alvin juga bahagia. Sejak itu, aku merasa tak lagi kecewa. Dan aku tak menunggu lagi. Aku berhenti menjadi seorang penunggu.

Terimakasih Tuhan :)

Aku berjalan kembali menuju ranjangku. Meraih handphoneku, mengetikan pesan singkat. Setelah berganti pakaian, aku meraih handphone dan tas tanganku. Mungkin sudah saatnya aku mengenal orang-orang di sekeliling orang tersayangku.

***

Munafik jika aku ngga ingin kamu. Bohong jika aku ngga punya rasa sama kamu. Salah jika aku bilang kamu tak memikat hatiku. Benar saat kamu begitu istimewa. Kecewa saat kamu dengan yang lain. Marah ketika kamu tak menghargaiku. Sedih ketika kamu tak menganggapku penting.  Bodoh saat aku tahu bahwa ternyata aku jatuh cinta padamu.

SEMUA KARENA KAMU!!!!!

***

Seperti itulah aku yang selalu menyayangimu, meski kamu tak pernah tahu.

-END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar