Cinta itu nyata. Ketika kamu menemukan orang yang
mencintaimu, bukan yang seharusnya kamu cintai...
^_^
Seperti mereka yang begitu rajin mengukir kata ...
^_^
Aku sesekali menatap jam
tangan warna putih yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku dan selalu
diiringi dengan helaan nafas pendek. Menunggu, menunggu, dan selalu
menunggu. Aku sudah bosan dengan kegiatan menunggu. Aku hampir selalu menunggu
untuk apa saja. Tahukah? Menunggu adalah hal paling konyol yang pernah ada.
Kenapa? Karena menunggu selalu berada dalam dua situasi, antara ada dan
sia-sia. Ada kedatangan mereka dan mereka justru menghilang.
Aku duduk kembali di bangku
kayu yang warnanya sudah sedikit memudar. Sesekali aku menengok ke kanan dan ke
kiri berharap orang yang aku tunggu segera muncul untuk mengobati kejengkelanku
yang telah menunggunya sekitar 30 menit ini. Dan yang lebih membuatku jengkel
lagi terhadapnya adalah beberapa sms yang aku kirimkan sejak sebelum
kedatanganku ke tempat ini yang diabaikan olehnya. Huhh!!! Dia benar-benar
menyebalkan.
Aku mencoba membuang
kebosananku dengan memainkan handphone touch screen warna putih milikku. Tapi
handphoneku justru membuatku semakin jengkel. Entah kenapa provider yang sudah
aku percaya selama tiga tahun ini mendadak menyebalkan, tidak bisa digunakan
untuk mengakses internet. Memang, ini sudah kerap terjadi beberapa minggu
terakhir ini, tapi kenapa dalam keadaan yang sudah menyebalkan ini, benda tak
bernyawa namun selalu ada untukku itu malah ikut menyebalkan. Ahhh!! Rasanya
aku benar-benar ingin pergi dari tempat ini, pulang, dan merasakan damainya
kamarku.
Ini sudah menit ke-35. Tapi
kehadirannya belum juga nampak. Ya Tuhan, kenapa sih aku selalu berada dalam
posisi menunggu. Kenapa aku tadi harus berinisiatif untuk datang sebelum
dia? Kenapa aku harus datang 5 menit lebih awal dari waktu yang kita sepakati?
Kenapa tidak ada kejadian yang menghambat kedatanganku? Kenapa jalanan yang
biasanya macet harus mendadak lengang? Ya Tuhan, aku bosan!
Kurasakan handphone dalam
genggaman tanganku bergetar. Sebuah panggilan masuk dari orang yang sudah aku
tunggu selama lebih dari 30 menit itu. Ada perasaan sebal yang semakin menjadi
dalam diriku, aku ingin memaki dia.
"Hallo" Sapaku
sinis. Orang di seberang sana, entah dia ada dimana terdengar terkikik pelan.
Tuh kan, dalam keadaan seperti ini dia masih bisa tertawa?!
"Kamu dimana sih? Aku
udah nunggu lama banget. Kamu inget kan perjanjian kita ketemu jam berapa dan
dimana? Kenapa smsku nggak dibales? Jangan bilang kamu nggak ada pulsa? Jelas
aku nggak percaya, mana mungkin kamu bisa nelpon aku" Semprotku sinis dan
bertubi-tubi. Aku tak peduli dengan beberapa orang yang sedang menatapku dengan
entahlah, tatapan kasian, sebal, atau apalah itu aku tak peduli.
"Aku minta maaf.
Terpaksa kita nggak bisa ketemu dulu soalnya tiba-tiba ayahnya sahabatku sakit.
Aku harus nemenin sahabatku soalnya dia sendirian. Nggak mungkin dong aku tega
ninggalin dia dalam keadaan kaya gini. Maaf ya?! Tadi bukannya aku nggak niat
bales sms kamu, tapi handphone ada sama sabahatku itu pas aku lagi ke POM
sekalian supermarket" Aku meremas tas tanganku dengan kesal. Bisa-bisanya
dia lebih memilih sahabatnya yang aku enggak tahu itu siapa daripada aku yang
udah nunggu dia begitu lama. Lagipula, siapa sih yang membuat janji untuk
bertemu? Dia kan? Kenapa dia juga yang harus membatalkan janji hanya untuk
sahabatnya yang kurasa sudah dianggapnya sebagai belahan jiwanya itu yang
bahkan dia rela berkorban untuk sahabatnya itu.
"Maaf ya" Ada nada
sesal dari suaranya di seberang sana. Aku menghela nafas sejenak, mencoba
membiarkan kesabaran masuk kedalam hatiku. Kecewa? Ya, tentu saja aku
kecewa. Aku sebal, aku bosan.
"Iya" Aku
memutuskan sambungan secara sepihak. Aku duduk kembali di bangku tua. Mencoba
menetralisir emosi yang bercampur memenuhi otak dan hatiku. Sabar? Huh,
menunggu yang sia-sia masih butuh kesabaran ya? Sudah kubilang sebelumnya,
menunggu itu berada dalam dua situasi, antara ada dan sia-sia. Ada kedatangan
mereka dan mereka justru menghilang. Dan aku menunggu kesia-siaan belaka.
Aku berjalan pelan menuju
mobil merah yang terparkir rapi di sudut kiri tempat parkir. Pulang dan berdiam
di kamar adalah salah satu jalan terbaik untukku saat ini. Mencoba membiarkan
emosiku mengalir dengan derasnya di seluruh aliran darahku, dengan begitu aku
akan merasakan kelegaan. Ya, aku butuh sendiri. Aku kecewa telah
menunggunya. Selalu menunggunya.
Aku membanting tubuhku
begitu sampai di kamar bernuansa putih miliku. Aku memejamkan mata sejenak. Aku
tidak boleh egois, tapi siapa yang tidak mengerti disini? Aku atau dia? Demi
aku atau sahabatnya? Jelas, sahabatnya orang yang mungkin sudah dikenalnya begitu
lama sebelum aku, bahkan mungkin lebih rela kehilangan aku daripada sahabatnya
yang aku tak peduli dia itu siapa, entah perempuan atau laki-laki.
Aku membuka mata, membuat
posisiku menjadi bersandar di dinding kamar yang dilapisi wallpaper kupu-kupu
warna-warni dan background warna ungu muda. Aku menggambil sebuah buku kecil,
buku yang menjadi tempatku bercerita apapun itu. Tapi kurasa, aku sedang tidak
berniat bercerita apapun tentang hari ini. Hari yang membuatku harus menunggu
lagi setelah sekian lama aku menghentikan kegiatan itu. Seperti de javu atau
apalah itu, tapi menunggu adalah hal yang dulu selalu terjadi. Hingga mungkin
aku betah untuk menunggu dalam waktu yang tak terhitung, tapi itu dulu. Bukan
sekarang.
Aku tersenyum kecil begitu
membuka halaman pertama buku bersampul cokelat tua di tanganku ini.
"Dari seseorang yang
selalu menunggu..."
Haha. Aku menertawakan
diriku sendiri. Aku menjuluki diriku sendiri, orang yang selalu menunggu.
Bodoh. Begitu bodohnya karena aku melakukan kegiatan paling konyol sepanjang
masa. Tapi kenapa aku dulu seperti tak peduli dengan itu? Bahkan aku selalu
sabar dan tak peduli. Tapi sekarang? Hanya menunggu selama itu sudah membuatku
jengkel setengah mati. Padahal dulu aku menunggu berbulan-bulan yang bahkan tak
ada hasilnya, tapi aku seakan tak peduli pada hasilnya. Tapi sekarang? Ahhh,
ternyata tak melakukannya dalam waktu cukup lama membuatku lupa akan bagaimana
cara menunggu yang benar.
***
Petengahan
Juli
Hari
ini, sekarang. Aku berada dalam satu dimensi ruang yang sama dengan dia. Sosok
yang pernah sekilas masuk dalam hidupku. Sekilas tapi membuatku tak pernah
tenang. Sekilas yang kemudian hilang. Tapi sekarang? Sosok itu bukan lagi
kilasan. Sosok itu akan melekat dengan begitu sempurna di setiap hentakan
waktu. Sosok itu akan dengan senang hati bergabung dengan waktu yang ditawarkan
padanya sama sepertiku. Tapi, kenapa sosok sekilas itu bisa masuk kembali dalam
hidupku sekarang ini dengan cara yang sempurna? Sempurna ketika aku mampu
membuang mereka dalam hidupku? Meskipun aku sendiri tak mengerti, sesempurna
apakah itu. Tuhan, biarkan aku menikmati setiap detik bersamanya...
Awal
Agustus
Aku bahagia. Sebahagia apa?
Entahlah, tapi dia selalu membuatku merasa bahagia. Aku... Aku suka
senyumannya. Senyumannya adalah senyuman terindah yang pernah ada. Dan setiap
dia tersenyum, dia seperti membawa magnet yang dengan cepat akan membuatku
tersenyum, bergabung dengannya, meski dia tak pernah tahu aku tersenyum karena
aku selalu di depannya, dia tak akan melihatku tersenyum karena dia selalu di
belakangku. Tapi... Tapi dia telah termiliki. Oleh orang yang
beruntung. Beruntung akan selalu mendapatkan senyumannya secara cuma-cuma
tanpa harus bersembunyi. Tuhan, biarkan mereka
berada dalam satu masalah. Kumohon!
Minggu
kedua Agustus
Tuhan,
terimakasih. Entah ini kehendakmu untuk membahagiakan aku atau memang sudah
seharusnya seperti ini. Sekali lagi terimakasih, Tuhan. Dia tak lagi termiliki
sekarang. Dia sendiri. Sama sepertiku. Aku tak begitu peduli dengan masalah apa
yang membuat mereka mengakhiri hubungan sekilas mereka itu, yang terpenting dia
telah sendiri sekarang. Apa ini waktuku? Tuhan, berikan aku kesempatan.
***
Aku menghela nafas. Itu aku,
waktu itu. Waktu dimana aku berada dalam satu dimensi ruang yang sama dengan
seseorang yang sempat terlintas dalam hatiku. Tapi di waktu sebelumnya, sosok
itu seperti pemeran figuran. Hanya muncul sekali. Ya, karena aku masih terpaku
dengan orang-orang di masa lalu, yang sempat membuatku bahagia. Tanpa pernah
aku sadari, bahwa sosok itu mampu memikat hatiku sejak pertama kali aku
mendengar namanya. Aneh, konyol, atau apalah itu. Tapi seperti itulah
kenyataannya. Namanya, senyumannya, tatapan matanya. Tuhan menciptakan dia
dengan sempurna.
Saat aku harus berada dalam
dimensi yang sama itu, aku baru menyadari satu hal. Aku memiliki sebuah rasa
padanya. Entah itu suka, sayang, atau cinta. Aku sama sekali tak tahu. Yang aku
mengerti adalah aku nyaman ketika melihatnya. Melihatnya dari jauh sekalipun.
Dan saat itu aku merasakan kecewa yang bersamaan. Ya, kenapa aku terlambat
hadir dalam hidupnya? Kenapa aku harus masuk dalam dimensi ruang yang sama
dengannya ketika dia telah termiliki? Termiliki oleh orang yang beruntung.
Tapi aku tak selamanya
kecewa. Ada kabar yang membuatku tersenyum diatas ketidak bahagiaan orang lain.
Ya, kabar tentang dia dan orang yang memilikinya. Tentang, mereka yang tak lagi
baik seperti dulu. Yang ternyata, sosoknya itu hanyalah pelampiasan karena tak
bisa memiliki, dan ternyata pula sosoknya itu memilih orang yang beruntung itu
karena mereka berteman. Aneh, konyol, tidak wajar, tapi nyata. Begitulah.
Dan akhirnya, sosok itu tak
lagi ada yang memiliki. Dia sendiri dengan jalan yang dia buat sendiri. Aku
bahagia, tapi tidak sebahagia itu. Kenapa? Karena sosok itu mengenalku hanya
sebatas kenal. Padahal aku ingin lebih, lebih dari sekadar kenal, apapun itu.
Aku sebenarnya bisa memulai
untuk mengenalnya lebih jauh, tapi aku sadar diri. Aku hanyalah wanita yang
mulai beranjak dewasa yang harus berhati-hati untuk melakukan segala hal. Aku
percaya, semakin bergulirnya waktu, aku dan sosok itu akan menjadi lebih kenal
lagi. Dan disinilah aku mulai menunggu sosok itu.
***
Hari
ke-11 Agustus
Aku
mencoba untuk dekat dengan dia. Mencoba untuk berbicara dengannya. Aku cukup
bahagia seperti ini. Tapi aku ingin lebih Tuhan.
Hari
ke-13 Agustus
Percaya
atau tidak, tapi kita tak secanggung dulu. Ini sudah sangat membahagiakan.
Terimakasih Tuhan, atas sahabat baik yang Kau kirimkan padaku, yang meskipun
dia tak tahu apa yang aku rasakan pada sosok itu tapi dia membantuku.
Hari
ke-14 Agustus
Aku
bingung ...
***
Aku... Aku tak bisa
menyembunyikan lagi perasaanku pada sahabat baikku. Mungkin lebih tepatnya, aku
tak bisa membohongi sahabatku itu tentang perasaanku. Seperti kita ketahui,
orang lain terkadang lebih tahu dengan apa yang kita rasakan daripada diri kita
sendiri. Mungkin seperti itulah yang aku alami.
"Kamu lagi suka sama
seseorang ya?" Tanya sahabatku to the point disela-sela pelajaran bahasa
indonesia yang membosankan.
"Mungkin" Jawabku
tak yakin. Ya, aku tak tahu dengan perasaanku sendiri. Yang jelas, aku nyaman
dengan perasaan ini, itu saja.
"Siapa?" Aku
mengerutkan kening. Sejujurnya, aku ingin sahabatku ini tahu tapi aku tak bisa
memendam ini sendirian. Kekonyolan ini sudah cukup membuatku galau setiap
waktu.
"Emm, tapi jangan
ketawa ya? Soalnya ini tuh konyol banget" Aku menutup wajahku dengan kedua
tanganku. Menyandarkan tubuhku pada kursi kayu yang aku duduki. Aku tidak ingin
ditertawakan.
"Iya, iya. Siapa
sih?" Sahabatku ini kurasa semakin penasaran. Semakin mendesakku.
"Alvin" Jawabku
singkat sepelan mungkin, lalu membenamkan wajahku diantara lipatan tanganku
yang di atas meja.
"Huahahahaha" Aku
melirik sahabatku ini. Tertawa? Bisa-bisanya dia tertawa sebegini kerasnya. Dia
tidak tahu bagaimana perasaanku. Aku malu, aku sebal, aku senang.
"Nggak usah ketawa bisa
kali ya?" Tanyaku sinis "Konyol kan?" Lanjutku lirih lalu
menatap papan putih di depan kelas yang sudah banyak coretan tak beraturan.
"Kok bisa sih? Sejak
kapan?" Sahabatku ini kembali bertanya layaknya detektif yang ingin tahu
apa saja tentang kliennya.
"Nggak tahu, tapi sejak
kita sekelas aku udah ngrasain perasaan itu" Jawabku jujur. Meski tidak
sepenuhnya benar. Tidak sepenuhnya benar karena sejujurnya rasa itu telah ada
sebelum sahabatku mengenal dia. Ya, rasa yang telah lama ada namun tetap
seperti itu, tak berkembang namun tak layu. Tetap seperti sedia kala meski sekarang
tumbuh subur dalam hati kecilku, hati yang paling dalam.
"Tapi aku nggak mau maksa kok. Aku takut terlalu
berharap" Tegasku. Ya, aku tak ingin banyak berharap. Dulu, saking terlalu
sering aku berharap, aku tak bisa merasakan seperti apa sakit ketika harapan
itu sia-sia. Dan kini, aku tak ingin lagi.
"Aku dukung kamu
kok" Sahabatku itu menepuk pundakku pelan. Dia adalah orang yang pertama
tahu tentang ini, orang pertama yang selalu tahu tentang perasaanku.
Aku membuka lembar
berikutnya buku bersampul cokelat ini. Aku tersenyum kecil. Hanya ada tulisan
besar AKU SUKA KAMU, TAPI KAMU? Aku masih ingat ketika itu, aku bosan
dengan pelajaran bahasa indonesia yang sedang mempelajari tata bahasa, aku
tidak suka dengan bab itu. Aku memilih untuk mencoret-coret buku tulisku dengan
kalimat "aku suka kamu, tapi kamu?" Saat itu, Alvin duduk di
sebelahku. Entah sengaja atau tidak, dia membaca tulisan itu pelan namun aku
dan sahabatku mampu mendengarnya. Alvin membaca tulisan itu seperti aslinya.
"Aku suka kamu, tapi
kamu?"
"Iya, aku suka
kamu" Dalam hati aku menjawab itu. Seandainya kalimat itu tulus dari
hatinya, ingin aku menjawab lantang tentang perasaanku yang sebenarnya. Bahwa
aku juga suka sama kamu, Alvin.
Sahabatku tertawa dengan
puasnya setelah mengamini kalimat Alvin. Semoga itu akan keluar dari bibirnya,
nanti. Saat yang paling indah. Tuhan, beri aku waktu untuk mendengarnya
mengatakan itu, sekali lagi!
***
Awal
September
Kamu
selalu membayangiku, bahkan dalam celah alam tak nyataku sekalipun. Kenapa
harus kamu? Kamu yang membawa luka meski tak pernah kamu sadari? Kenapa harus
kamu? Kamu yang selalu dalam pikiranku meski itu tak ada hubungan timbal balik?
Kanapa harus kamu? Orang yang selalu tersenyum. Kenapa harus kamu? Serpihan
kecewa yang tak kunjung sembuh. Kenapa harus kamu? Harapanku meski aku tak
begitu bagimu. Kenapa harus kamu? Yang bahkan tak peduli siapa aku. Tuhan,
terimakasih :) hanya dalam alam tak nyataku, aku bisa sedekat ini dengannya,
meski aku yang paling kecewa.
***
Aku menangis tertahan. Jika
ingat kejadian itu, aku merasa menjadi orang paling aneh sedunia. Bisa-bisanya
aku memimpikan Ri sebanyak empat kali dalam dua hari. Entah apa maksudnya, tapi
dalam mimpi itu aku selalu merasa kecewa ketika aku tersadar. Kenapa aku bisa
sebegini lemahnya hingga dalam bayangan mimpi pun aku masih harus tetap
berharap padanya? Kenapa harus dia?
Aku pernah mendengar bahwa
mimpi itu berasal dari pikiran alam bawah sadar kita. Berarti, apa sejauh itu
alam bawah sadarku memikirkan dia? Apa tak ada hal yang lebih penting lagi
untuk dipikirkan selain dia? Tapi kenapa harus dia?
Terlalu banyak pertanyaan
kenapa harus dia, bukan? Bukan terlalu lagi tapi mungin sudah sangat banyak
pertanyaan kenapa harus dia. Hingga aku bosan karena tak ada satu pertanyaan
pun yang mampu terjawab. Semuanya mengambang, aku dalam kebimbangan. Aku?
Tapi sejujurnya aku
bersyukur. Tuhan memberiku mimpi seperti itu berkali-kali. Aku merasa begitu
dekat dengan dia. Merasa bisa bersamanya selamanya. Tapi lagi-lagi, aku yang
kecewa. Kenapa? Semua hanyalah mimpi. Mimpiku, milikku seorang.
***
Jalani hidup, normally!!!
***
Aku tak lagi menemukan
tulisan lagi di lembaran berikutnya. Ya, aku akan menjalankan kehidupanku
dengan normal. Aku ingin membuang semua perasaanku pada dia. Entah kenapa, tapi
aku ingin membunuhnya dari pikiranku. Aku bosan ketika dia selalu hadir dalam
bayangan semu sekalipun. Aku bosan memikirkan dia. Aku ingin mematikan dia
dalam hatiku meski aku tak pernah bisa. Karena bias-bias senyumannya tak pernah
hilang dari lensa mataku, tak akan.
Aku menghela nafas panjang.
Tuhan memang punya rencana indah pada setiap umat-Nya. Apapun itu, tapi Tuhan
akan selalu memberikan hadiah untuk kita. Tuhan tak pernah mengecewakan kita.
Dan aku percaya akan itu. Tuhan tak pernah mengecewakan aku, sekalipun.
Handphoneku bergetar. Aku
meraihnya. 1 panggilan dari Alvin. Aku mengetuk layar yang bertuliskan jawab,
lalu mendekatkan benda kecil tak bernyawa itu menyentuh telinga kiriku.
"Hallo"
"Maaf ya! Kamu pasti
marah sama aku. Aku ke rumah kamu sekarang ya" Aku menghela nafas. Apa aku
segitu egoisnya ya?!.
"Enggak kok. Kamu ngga
perlu ke rumah. Sahabat kamu pasti lebih membutuhkan kamu" Mungkin aku
memang egois. Aku hanya sedikit marah tadi karena bosan. Tapi aku sadar, aku
tak seharusnya egois.
"Beneran? Aku bisa kok
ke rumah kamu" Terselip nada khawatir dari suara beratnya. Aku menghela
nafas sekali lagi.
"Beneran. Sahabat kamu
lebih butuh kamu sekarang. Salam buat sahabat kamu ya, semoga ayahnya cepat
sembuh" Kataku.
"Iya, nanti aku
sampaikan. Maaf ya sayang"
"Iya"
Aku menghela nafas lagi.
Kadang, saking terlarut dengan keadaan yang menjemukan membuat kita melupakan
kesadaran. Bahwa kita harus sadar, ada sesuatu yang lebih penting. Bukan
begitu?!
Aku berjalan menuju jendela
kamarku. Menyibakkan tirai yang tertutup. Membiarkan matahari sore masuk
melalui celah-celah kecil jendela membiaskan kehangatan di kamarku. Aku
menghirup udara sore hari dalam-dalam.
Hari itu, waktu itu, sore
itu. Aku, sahabatku Agni, Alvin, dan Cakka bermain di taman kota. Bukan bermain
sih, hanya sekedar ngobrol setelah les sore di sekolah. Ngobrol banyak hal yang
sebenarnya tidak penting sama sekali. Mulai dari guru bahasa indonesia sampai
celana dalam. Tapi sejak saat itu, kami berempat menjadi begitu dekat. Aku
bersyukur karenaNya yang memberiku waktu dan kesempatan.
Aku tak bisa ingat
kejadiannya secara detail. Yang aku tahu, tanggal 11 Mei, aku dan Alvin memilih
untuk saling menyayangi. Kami bukan menyebut ini pacaran, hanya sekedar rasa
saling menyayangi saja. Aku bahagia, kurasa Alvin juga bahagia. Sejak itu, aku
merasa tak lagi kecewa. Dan aku tak menunggu lagi. Aku berhenti menjadi seorang
penunggu.
Terimakasih Tuhan :)
Aku berjalan kembali menuju
ranjangku. Meraih handphoneku, mengetikan pesan singkat. Setelah berganti
pakaian, aku meraih handphone dan tas tanganku. Mungkin sudah saatnya aku
mengenal orang-orang di sekeliling orang tersayangku.
***
Munafik jika aku ngga ingin
kamu. Bohong jika aku ngga punya rasa sama kamu. Salah jika aku bilang kamu tak
memikat hatiku. Benar saat kamu begitu istimewa. Kecewa saat kamu dengan yang
lain. Marah ketika kamu tak menghargaiku. Sedih ketika kamu tak menganggapku
penting. Bodoh saat aku tahu bahwa ternyata aku jatuh cinta padamu.
SEMUA KARENA KAMU!!!!!
***
Seperti itulah aku yang selalu
menyayangimu, meski kamu tak pernah tahu.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar